Archive for June, 2007

Nonstop Eater

Kemarin saya makan siang sama Vinta dan Ume di Soto Bali (soto yang bukan berasal dari Bali, tapi tempat jualannya terletak di Jalan Bali), tempat saya biasa makan siang waktu saya masih SMA, karena tempatnya deket sama sekolah saya dan murah meriah. Setelah selesai makan, Vinta bilang dia kenyang banget, sampe ga bisa napas katanya, trus Ume meskipun ga bilang dia udah kenyang, tapi Ume makannya ga habis, malah Ume nawarin nasinya buat saya, tapi saya agak males nambah. Nah, yang aneh itu adalah saya, karena saya bener-bener ga ngerasa kenyang. Ga tau kenapa, nyoli (nyoto bali) hari ini ga bikin perut saya kenyang, cuma berasa numpang lewat aja tuh soto. Karena Desi ga bisa ikut makan siang bareng, jadi kita ngebungkusin Desi satu paket Timbel Alka (ada juga yang nyebut Timbel Bang Dung) yang terdiri dari nasi timbel, ayam goreng, tahu, dan tempe, tak lupa sambel dan lalab. Sesampainya di himpunan, Desi belum juga turun buat makan timbelnya, secara tak sadar saya seringkali ngelirik-lirik keresek yang berisi timbel, hehe, sepertinya itu memang panggilang dari alam bawah sadar saya. Begitu Desi ke himpunan dan makan timbelnya, langsung saja saya minta ngicip-ngicip sedikit banyak, hihi. Uh, rasanya nikmat banget, ditmambah sambelnya yang sangat pedes dan saya pun kepedesan dan kelimpungan cari air minum. Di perjalanan pulang menuju rumah sekitar jam 19.30, lagi-lagi perut saya membuat saya secara tidak sadar membelokkan stang vario saya ke sebuah warung baso di sekitar Gunung Batu. Hihihi, jadilah saya makan lagi (cuma) 1 porsi baso. Sesampainya di rumah, saya makan brownies kukus blueberry yang ada di meja makan, entah kenapa ni brownies ga habis-habis, padahal udah 2 kali saya bekel ke kampus. Trus pengunjung terakhir perut saya hari ini adalah batagor kering semacam kerupuk (lebih tepat kalau disebut kerupuk rasa batagor) yang tadi siang saya beli di Balubur, setelah 2 hari yang lalu saya melalui perjalanan panjang hunting batagor jenis ini, akhirnya saya dapet juga ni makanan, hehe, pokoknya saya udah kayak ibu hamil yang lagi ngidam.

Entah kenapa perut saya hari ini lapar terus, eh, apa setiap hari ya?! Hehe. Saking seringnya saya makan, saya sering disebut nonstop eater sama teteh saya. Teman saya juga sering bilang kalo saya ke kampus kayak mau piknik, gara-gara di dalam tas saya hampir selalu ada makanan. Hehe.

8 comments 22 June 2007

Aku tak tahu apa yang terjadi antara aku dan kau.

Sendirian di himpunan.
Sepi.
Galau.
Ga tau kenapa.
Aku tak tahu apa yang terjadi antara aku dan kau.
[Judul dan kalimat terakhir dikutip dari lagunya Naif -Benci Untuk Mencinta- yang sekarang aku puter terus di komputer himpunan]

2 comments 21 June 2007

Akibat Sering Pulang Malam

Sekarang saya sedang terisak, bukan sedih, bukan nangis, tapi saya sedang flu. Flu berat bisa dibilang. Setelah seminggu penuh saya selalu setia mengunjungi kampus saya yang masih saya cintai. Entah kenapa, saya seringkali terjebak untuk pulang malam, ada aja kerjaan atau alasan yang [mungkin saya buat-buat] menuntut saya untuk pulang malam. Dari mulai rapat, belanja, jalan-jalan, migrasi simcard [seperti yang sudah saya sebutkan di sini], sampai jajan di tempat makan yang bukanya setelah maghrib. Dan disinilah saya sekarang. Saya yang sedang terserang flu, batuk, dan kangen [uupss!].

5 comments 16 June 2007

Saya hari ini..

Liburan kayak gini tapi saya hampir setiap hari ke kampus.  Hari ini sebetulnya saya ada rapat, tapi jam 7 malam, tapi lagi saya udah nyampe kampus jam 9 pagi. Mau ngapain? Ga tau juga, yang jelas saya pergi pagi-pagi sekalian nganterin kakak saya ke kampus, lumayan ngirit ongkos katanya. Sebenernya sekalian juga memantau kondisi nilai-nilai yang belum keluar, hari ini adalah deadline pengumuman nilai, tapi emang dasar IF, masih ada nilai yang belum keluar sampai hari ini pukul 11:26, deadliner sejati.  

Berhubung saya ga ada kerjaan sampai jam 7 malem ntar (oh,tidak! ternyata masih 7,5 jam lagi!), saya siang ini berencana ke XL center, mau migrasi dari Jempol ke Bebas, biar lebih murah nelponnya. Trus saya juga berencana nimbel (makan timbel) di LIA, tempat favorit saya untuk mengisi perut, kebetulan udah 1 bulan saya ga makan di sana. Kangen! Biasanya kalau saya lagi ga sibuk, saya selalu ke sana setiap hari Jumat sekitar jam12an, pas lagi waktunya Jumatan. Karena beberapa bulan terakhir ini saya cukup sibuk (cuma cukup, ga sangat kok! hehehe) jadi saya jarang banget ke sana, ritual jumat saya seringkali ga bisa saya kerjain. Meskipun sekarang bukan hari jumat, tapi saya tetap akan berangkat ke sana.

Timbel, I’m coming!

 (^-^)

7 comments 14 June 2007

Karpet atau Tanpa Karpet

Hari ini kan BRT bersih2 himpunan yah, terus kita seperti biasa mengeluarkan karpet hijau HMIF tercinta. Ternyata di bawah karpet itu tersimpan bermilyar-milyar butir pasir yang sangat menusuk hidung (ga sempet ngitung juga sih, tapi ya kira-kira segitu lah ya). Setelah selesai nyapu dan ngepel, kita bingung nih, mau tetep dipasang atau ga karpetnya. Kalau menurut saya dan teh lafra, enakan dipasang, kalo ga dipasang dingin, tapi kalo kata Hikam, mending ga usah dipasang karpetnya, karena karpetnya penuh debu, ntar jadi sumber penyakit.

Trus jadinya saya bingung, kedua pendapat itu emang bener adanya. Tadinya sempet mau nyoba ga pake karpet, tapi belum2 udah ada yang protes aja, ehm.. jadi semakin bingung saya. Rencana awal adalah tidak memasang karpet dengan alasan karpet sedang dilaundry, tapi sekarang sih dipasang lagi karpetnya karena sayang duit buat ngelaundry karpet.
Jadi sebenernya, pada mau pake karpet atau ga sih??

9 comments 11 June 2007

Baru

Sadarkah Anda kalau ada yang baru dengan blog saya?

Betul. Saya ganti tema (theme).

Saya merasa tema blog saya yang lama terlalu minimalis dan memberikan kesan dingin & kaku.

Tidak menunjukkan kehangatan sang pemilik blog (serius).

Saya juga memutuskan mengganti tema karena saya kesulitan untuk memajang foto saya (maklum, narcis), sekarang saya bisa memasang foto pada header.

Header foto yang sekarang dipasang merupakan bagian kecil dari gabungan foto-foto yang cukup bersejarah selama saya di ITB. Cukup lama juga saya berkutat dengan Adobe Photoshop untuk menghasilkan foto yang saya beri nama piecesOfLife (maklum lagi, amatir). Alhamdulilah penggabungan foto itu selesai juga dan saya cukup puas dengan hasil kerja saya.

Mungkin bisa dinilai 75 (skala 0-100) untuk hasil editan, tapi tak ternilai untuk memori yang tersimpan di dalamnya.

(^-^)

3 comments 10 June 2007

BENAR VS. BIASA

 

 

Hampir setiap hari saya melewati perempatan Tol Pasteur dan Surya Sumantri (daerah Maranatha). Jalur tersebut merupakan rute perjalanan terdekat (shortest path) dari rumah saya menuju kampus ITB. Saya mengunakan sepeda motor sebagai alat transportasi dan saya seringkali harus berhenti di lampu merah perempatan tersebut karena jumlah kendaraan yang berasal dari arah Husein menuju Pasteur cukup banyak, terutama di pagi hari. Jalur Husein – Pasteur mendapat giliran lampu hijau setelah jalur Surya Sumantri – Tol Pasteur dan Surya Sumantri – Husein. Jumlah kendaraan dari arah Surya Sumantri yang belok ke kanan, yaitu ke arah Tol Pasteur, lebih banyak daripada jumlah kendaraan yang menuju Husein. Jika tidak ada kendaraan dari arah Surya Sumantri yang menuju Husein maka kendaraan-kendaraaan yang berasal dari arah Husein (jalur yang saya lewati) dapat dengan leluasa melaju menuju Pasteur. Banyak sepeda motor dan kendaraan roda empat yang seringkali nyelonong begitu saja meskipun lampu merah masih menyala. Selama 7 bulan saya mengendarai sepeda motor, saya selalu berusaha menaati peraturan yang berlaku, salah satunya adalah tidak menerobos lampu merah. Saya selalu setia menahan laju sepeda motor saya sampai lampu merah di perempatan itu padam dan berubah menjadi kuning atau hijau.

 

Suatu hari di awal minggu ini, seperti biasa saya melalui jalur yang sama yang selalu saya lalui tiap hari, yaitu perempatan Tol Pasteur – Surya Sumantri. Kejadian yang sama terulang lagi, lampu merah masih menyala, namun tidak ada kendaraan dari arah Surya Sumantri menuju Husein. Sepeda motor saya berada di barisan depan antrian kendaraan tersebut, namun saya tetap di tempat saya menanti hingga lampu merah itu padam. Suara klakson pun berbunyi bersahutan memberi tanda untuk memaksa saya melaju, itu hal yang biasa bagi saya dan saya pun tetap diam tak bergeming. Lalu beberapa sepeda motor yang berada di belakang saya menyalip saya dengan kencangnya dan bagian yang paling penting adalah orang-orang yang ada di atas sepeda motor tersebut memandang saya dengan tatapan benci atau mungkin jijik. Sebuah tatapan yang secara implisit berkata bahwa saya salah karena menaati peraturan lalu lintas dan mereka yang menerobos lampu merah adalah benar. Di sinilah saya sampai pada sebuah titik dimana saya sadar bahwa seterpuruk inikah Indonesia.

 

 

Ketika sesuatu yang biasa menjadi benar, kemanakah perginya kebenaran itu ?

 

7 comments 10 June 2007


tanpa tahu apa, siapa, dan mengapa

hanya ingin bersuara dengan kata

hoping for the best, but still preparing for the worst

Archives

Recent Posts

Recent Comments

kink on Rapel
kink on About
wahyu am on Rapel
Anwar Ashari on Kartu Merah
na on Cukup 1

Ginar Santika Niwanputri

IF2004

IF2005

IF2006

Pict

Teman

Calendar

June 2007
M T W T F S S
« May   Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Category Cloud

Categorized INAY Lagi Pengen Serius Uncategorized