Dua Linang

Sad_Love_Quotes_believe-cry-quotes-sad

Siang ini air mata saya jatuh untuk hal sepele yang tidak berdasar. Lalu malam ini saya tak kuasa menahan tetes air mata saat mendengar kisah pegiat daerah dalam memperjuangkan literasi untuk semua kalangan usia.

Sungguh dua linang yang berbeda. Saya rindu linang hadir dengan cara yang memperkaya rasa. Saatnya perlahan belajar meninggalkan linang yang tak perlu pun tak tentu.

Mari simpan air mata dalam ruang berharga yang tak kasat mata.
Karena ia hanya pantas keluar untuk sesuatu yang menyehatkan jiwa.

 

Jakarta, 11 Mei 2016

Inay

 

 

Antara Kasur dan Kubur

 

Hampir tiap pagi dua roda berputar teratur membawa saya menjemput segenggam berlian keberkahan. Pagi ini abang ojek saya arahkan melewati Casablanca. Saya terbiasa memberi gambaran kasar jalan yang akan dilalui, kemudian saya biarkan sang pengemudi menerjemahkannya ke dalam belokan kiri dan kanan sesuai seleranya.

 

Saya memberi ruang yang sama untuk saya dan dia dalam menentukan jalan yang akan kami lalui. Mungkin sebagian orang tidak pernah memikirkan hal ini, memilih jalan saja harus sama porsinya. Ada ketenangan yang saya dapatkan dengan cara ini, ketika kedua pihak memiliki andil yang setara untuk mencapai satu tujuan yang sama. Ya, Anda boleh heran atau geleng-geleng kepala, tolong diterima dengan lapang dada ya kelakukan ajaib saya ini.

 

Dalam jalur Casablanca, banyak pilihan jalan yang dapat kami lalui. Kali ini jalan pintas yang dipilih, sebuah jalan yang membuat hati saya selalu berkecambuk ketika melaluinya. Ada ragu dan gelisah dalam setiap putaran rodanya. Saya menghela napas panjang, jalan ini sebenarnya tak pantas untuk dilewati kendaraan bermotor, namun setiap pagi dan malam ternyata tak pernah ada hentinya. Tempat Pemakaman Umum.

 

Pikiran saya berlompatan dari satu batu nisan ke batu yang lain. Suatu hari nanti ada nama Ginar Santika Niwanputri tertulis di sebuah batu atau mungkin kayu. Tubuh ini akan terbaring tak berdaya di bawahnya, mengubah jati dirinya menjadi sebuah jasad. Dan kemanakah perginya jiwa yang melekat sebelumnya? Menunggu penghitungan nilai atas apa yang telah dilakukan oleh setiap sel di dalam tubuhnya.

 

Saat batu nisan itu dipasang, sebagai apakah saya akan dikenang?

 

Ah sesungguhnya itu hanyalah sebuah hijrah yang sederhana. Kita lahir di atas kasur, kemudian kita mati di tanah kubur. Perpindahan tempat istirahat dari sementara menuju tak lekang masa. Perubahan dari dunia fana ke alam baka.

 

Bagaimana sebenarnya tugas di dunia tak perlu berlama-lama. Hanya sekejap saja seperti waktu yang tersisa antara kumandang adzan (di telinga) dan didirikannya shalat (untuk jasad kita).

 

Antara Adzan dan Shalat

 

Sungguh sebenarnya hidup itu sangat sederhana, cukup memberi makna dalam setiap jeda.

Sebuah refleksi dalam usia yang digenapkan
Sebentuk curahan syukur untuk jantung yang didetakkan
Secarik catatan atas semua pelajaran hidup yang dianugerahkan

 

Jakarta, (19+1) November 2015
~Inay

Macan TBB

image

Suatu pagi di sela-sela pepohonan.

Ditemani suara gemericik pertemuan ban motor dan genangan.

Bersama semerbak harum karet dan udara pagi yang bergantian.

Loncatan pikiran beserta ketakutan akan masa depan mengiringi setiap perjalanan.

Bertahun-tahun ke depan akankah tetap bertahan perjuangan demi perjuangan?

Hampir genap lima tahun, tongkat kehormatan telah di-estafet-kan.

Setelah ribuan derai tangis dan jutaan gelak tawa, hari ini pun hadir sebagai sebuah jawaban dari kegelisahan.

Bentuk nyata dari bayangan semu cita-cita mulia bersama perlahan bermunculan.

Untuk semua keluarga besar Macan TBB.

Kita memang tak punya laut ataupun gunung, tapi bersyukurlah bahwa kita menemukan keluarga baru yang jauh lebih indah daripada pemandangan.

Semoga auman kita semakin bermanfaat bagi dunia dan tak hanya menjadi kenangan. 💘💘💘

#5TahunMacanTBB
#baper
#nangisdipojokan

Rasa Tanpa Definisi

Jatuh cinta itu biasa saja.
Iya, kata Efek Rumah Kaca.

Mungkin cukuplah kau sebut itu sebuah rasa yang belum terdefinisi. Tak usahlah terburu-buru menyatakan bahwa itu cinta.
Perlahan rasa akan menemukan definisinya sendiri. Dia akan menguat jika memang ia cikal bakal dari cinta. Jika tidak, ah sudahlah, mungkin itu tak lebih dari hasrat sesaat.

Hatiku masih perlu belajar untuk mengenali rasa yang singgah, sekejap atau pun lama. Langkah demi langkah menentukan ia akan kemana dan menjadi apa. Biarlah ia menjelma sebagai apa yang seharusnya, tanpa perlu ada paksa atau dusta.

Rasa yang abadi akan menemukan jalannya sendiri. Termasuk juga rasa yang sudah pergi, apakah dia akan menemukan jalan untuk kembali? Kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi.

Satu yang pasti kita perlu menikmati setiap momen yang terjadi, dalam senyuman dan kebahagiaan yang hakiki.

Sajak Dua Tepian

image

Aku berdiri di antara batas dua tepian.
Masa lalu dan masa depan.

Aku termenung di antara batas dua tepian.
Harapan dan kenyataan.

Aku menghela di antara batas dua tepian.
Impian dan kenangan.

Aku menerawang di antara batas dua tepian.
Ketenangan dan kegundahan.

Aku terusik di antara batas dua tepian.
Pertanyaan dan jawaban.

Aku terpaku di antara batas dua tepian.
Keikhlasan dan kedengkian.

Aku mematung di antara batas dua tepian.
Keraguan dan keniscayaan.

Aku tersenyum di antara batas dua tepian.
Doa dan ampunan.

Sang Pemilik Hati

Mata saya terpejam, tapi kepala saya berputar. Tubuh saya terdiam, tapi hati saya bergetar. 
Malam ini seharusnya tak ada beda, namun kecambuk di otak tak bisa kompromi, menggugah kesadaran jiwa yang tak berseri.

Hati saya sudah disiapkan untuk menyambut hari biasa tapi berasa ini. Tentunya oleh Sang Pemilik, hati ini dilatih bergoncang dan berbalik ke segala arah.

Dan inilah saat latihan itu usai, ujian baru saja dimulai. Degup tak menentu mengiringi hati yang tanpa beban menggelinding jauh. Ah lihatlah bagaimana Sang Pemilik hati berhasil membuatnya kuat berlapis baja, sarat berbalut emas, bahkan padat bertahtakan mutiara.

Hati, engkau kini berhasil perlahan menggelinding tanpa cidera. Lihatlah bagaimana dirimu mampu menahan curahan di pelupuk kedua mata.

Oh, tetaplah berlatih tanpa berhenti wahai sang hati. Aku yakin Sang Pemilik takkan bosan menjaga teguhnya sampai waktu yang tak bertepi.

Catatan Lampu Merah

Saya ingat ini kedua kalinya saya melihat sang Ibu, pembawa gerobak dengan seorang bayi mungil dalam gendongannya. Masih di sekitar lokasi yang sama, kala itu saya berniat memberikan lembaran rupiah yang mungkin tidak seberapa. Saya berusaha merogoh uang di dalam tas untuk kemudian membuka jendela mobil. Sang Ibu ternyata berjalan begitu cepat seolah tanpa membawa beban yang berarti, padahal gerobaknya penuh dengan barang yang jika dijual pun mungkin belum tentu cukup untuk membeli sekaleng susu bagi sang bayi. Mobil saya kemudian melaju dengan arah yang berbeda dengan sang Ibu, saya hanya bisa memandanginya melalui sudut mata sembari mengucapkan doa. Ah, memang sebatas itu yang dapat saya lakukan, selemah-lemahnya iman.

Kali ini saya berusaha kembali merogoh tas, namun kecepatan para pengemudi motor itu mengalahkan kecepatan tangan saya. Roda-roda motor menggeliat di sekeliling gerobak sang Ibu. Sang Ibu terlihat tak nyaman namun tetap berusaha tenang memegang gerobaknya, sebuah keberanian yang harus beliau genapi di setiap harinya. Saya termenung dan kembali hanya bisa berdoa dari balik kaca jendela. Sedih dan lemah, saya kembali tak mampu memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar doa.

Selang beberapa detik saja, saya melihat ada gerakan berbeda dari pengendara motor yang berhenti tepat di samping sang Ibu. Saya berpikir, oh mungkin beliau mencari ponselnya di dalam jaket. Seketika itu pula beliau mencolek pundak sang Ibu dan memberikan lembaran rupiah yang beliau rogoh dari saku jaketnya. Sang Ibu tersenyum sembari mengucapkan terima kasih.

Saya diam bergeming, hanya mampu merinding menyaksikan kejadian di lampu merah yang kurang dari 30 detik itu. Lihatlah bagaimana Allah memudahkan apa yang ingin kau lakukan, diwakilkan oleh orang lain yang Ia kehendaki. Yakinlah bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dan setiap doa hamba-Nya akan selalu didengar oleh-Nya, diijabah dalam waktu singkat atau lambat, dalam bentuk yang seutuhnya atau yang semestinya.

Saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menggendong tas yang beratnya bahkan tak lebih dari berat bayi mungil itu.

Masihkah ada yang harus kau keluhkan?
Masihkah ada hal yang kau lupa untuk syukuri?
Masihkah teringat segala nikmat yang Allah berikan sejak kau lahir ke dunia hingga saat ini masih dapat menghirup nafas yang sama?

Sebuah catatan yang ditulis dalam tangisan pilu penuh rasa malu.

Jakarta, 19 Maret 2015

~Inay – at Traffic Light Mampang – Kuningan

View on Path

Sebuah Kisah

“Saya lulus kuliah 2013, tapi lulus SMA 2004. Saya sempet jualan dulu, trus jadi cleaning service, baru deh bisa jadi OB. Habis uang tabungan cukup, baru saya bisa kuliah. Baru deh saya sekarang bisa kerja di sini.”

Beliau bercerita ringan tanpa beban dengan penuh senyuman, sedangkan saya berusaha keras menerjemahkan untaian kata-kata ke dalam bayangan semu di kepala.

Kisah seorang rekan kerja siang ini membuat saya termenung lama mengingat beberapa masa yang lalu saat berseragam putih abu-abu. Kuliah adalah satu-satunya opsi yang tersedia di hadapan, tanpa perlu memeras keringat atau bahkan turut serta memutar otak bagaimana cara membiayainya.

“Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang engkau dustakan?” – Read on Path.

Mimpi: Hak atau Kewajiban

Kemarin malam, di depan TV yang menyala, saya berbincang bersama seorang sahabat. Saya tertarik membahas sebuah temuan di kantor anak perusahaan yang saya kunjungi hari itu. Bekerja di holding company memaksa saya memiliki banyak kantor yang harus didatangi.

Siang itu tanpa sengaja saya menjatuhkan pajangan dari meja seorang rekan kerja. Untungnya pajangan itu masih tetap utuh. Sebuah replika Menara Eiffel setinggi kira-kira 15 cm. Saya kembalikan Eiffel pada posisinya semula. Tatapan mata saya jatuh pada secarik kertas bertuliskan IMPIAN, tertempel di dekat Eiffel. “Impian gw tuh!”, ujar sang pemilik kubikel. Saya hanya bisa berkata Wow untuk kemudian tersenyum. Saya mendengar nada yang sungguh berbeda saat dia menyebutkan kata impian. Jauh lebih berapi-api daripada saat kami membahas report yang menjadi agenda kedatangan saya kali itu.

Di waktu yang lain, tangan saya berhenti sesaat dari mengusap naik turun ponsel pintar dalam genggaman. Sebuah foto apik menarik perhatian saya, Big Ben terpasang sebagai desktop background laptop seorang teman yang linimasanya saya ikuti. Disertai kalimat motivasi yang membangkitkan nyali, foto sederhana itu sungguh menggugah hati.

Di linimasa jejaring sosial yang lain, lagi-lagi jari-jemari saya terhenti. Sebuah celotehan rencana masa depan disertai iringan doa dan harapan yang terangkai dengan rapi. Tertulis di sana tanpa perlu ada sebuah beban atau sebercik ketakutan.

Marilah kita sebut ketiganya terkait erat dengan mimpi. Saya bertanya pada diri sendiri, apakah mimpi itu sebuah hak atau sebuah kewajiban. Saya ternyata tak pernah ingin memilih salah satu di antara dua. Tidak ada yang pernah melarang seseorang untuk bermimpi.

Saya sampai di satu titik, titik persinggahan yang membuka mata. Manusia yang bernyawa masih akan terus bermimpi sampai ia menutup usia. Setiap orang berhak bermimpi dan setiap yang lain wajib menghargainya.

Ya Tuhan, izinkan saya bermimpi.

image

Takut dan Lupa : Sebuah Kausal

Saya menulis ini di dalam sebuah taksi burung biru. Perjalanan dari satu gedung ke gedung lain yang semakin biasa saya jalani dari hari ke hari. Bapak driver bilang belum ada informasi kenaikan tarif, sejauh ini biaya BBM masih disubsidi oleh perusahaan. Kalau tidak disubsidi, mungkin uang hanya habis untuk beli bensin, pulang ke rumah dengan tangan kosong. Manusia memang tak lepas dari rasa takut. Takut jika BBM naik kemudian penghasilan yang didapat tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun manusia juga tak lepas dari sifat lupa. Iya, manusia lupa bahwa rezeki ditentukan oleh Allah, bukan oleh pemerintah yang menaikkan harga BBM.

Visa ke Surga

Visa ke Surga

Di pinggir jalan saya tertarik melihat baligo besar bergambar tangan memegang sebuah benda bertuliskan VISA. Judulnya Visa ke Surga. Menarik melihat bagaimana sebuah izin mendatangi surga masih perlu dibuatkan iklannya, sedangkan izin kunjungan ke negara lain begitu laris manis tanpa perlu polesan advertorial yang berarti. Jikalau benar ada visa ke surga, sesungguhnya proses pengajuan visa dilakukan sepanjang usia kita di dunia. Pada akhirnya proses pengajuan, tentunya hanya Allah, yang berhak memberikan approval visa tersebut. Saya tersenyum sendiri membayangkan analogi yang terbangun di tengah kemacetan Ibukota ini.

Ya ini lagi-lagi tentang 2 hal yang sangat lekat dengan manusia, takut dan lupa. Lupa dan takut ini sebenarnya 2 hal yang saling terkait dengan hubungan kausal sebab akibat. Manusia takut karena ia lupa, vice versa. Manusia sering lupa apa tujuannya ia diciptakan. Lupa bagaimana ia kemudian dihidupkan. Dan lupa detak jantungnya suatu waktu akan dihentikan.

Ah, sesungguhnya tulisan ini niscaya menjadi sebuah refleksi tahunan di hari ke 19 bulan ke 11. Usia yang tak lagi muda mulai saya jejaki, 27 tahun. Jadi apakah kematangan usia bisa menentukan kekuatan manusia dalam melawan takut dan lupa?